Kamis, 15 Agustus 2019

Level 11 Day 5

Fitrah seksualitas
Presentasi kelompok 4 Bunsay 4
Day 5


PERAN AYAH DALAM PENGASUHAN UNTUK MEMBANGKITKAN FITRAH SEKSUALITAS*

"Sosok Ayah Janganlah dipandang sebelah mata karena perannya amat besar dalam tumbuh kembang anak.
Membiarkan anak tanpa sosok Ayah,sama dengan merencanakan kerusakan generasi masa depan bangsa."
-Ust.Bendri Jaisyurahman

Imam Ibnul Qayyim berkata: 
_“Betapa banyak orang yang menyengsarakan anaknya, buah hatinya di dunia dan akhirat karena ia tidak memperhatikannya, tidak mendidiknya dan tidak memfasilitasi syahwat (keinginannya), sementara dia mengira telah memuliakannya padahal dia telah merendahkannya. Dia juga mengira telah menyayanginya padahal dia telah mendzaliminya. Maka hilanglah bagiannya pada anak itu di dunia dan akhirat. Jika Anda amati kerusakan pada anak-anak penyebab utamanya adalah ayah.”_

Ayah memegang peran penting dalam pendidikan anak. 
karena ayah adalah pemimpin dalam keluarga, seperti yang tertera dalam surat An-Nisa ayat 34.
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah
melebihkan kaum laki-laki dari kaum perempuan, dan karena laki-laki telah
menafkahkan sebagian dari harta-harta mereka”.
Dalam islam seorang anak akan ikut nasab ayahnya. Dan ayahnya lah yang akan dimintai pertanggungjawabannya.

"Ayah adalah panutan dan romodel bagi anak-anaknya. Bukan hanya anak laki-laki namun anak perempuan. Karena tanpa disadari kelak anak perempuan akan mencari seorang pendamping yang menyerupai ayahnya baik dalam sikap maupun perilaku".

💡SOLUSI

Ayah yang baik adalah Ayah yang bisa mengikat hati anak-anaknya, buatlah anak selalu merasa diistimewakan agar terikat hatinya diantaranya dengan cara sebagai berikut:
1. Sering menyentuh dan memeluk anak secara fisik
2. Ungkapkan cinta kepada anak secara privat
3. Mendoakan anak secara terbuka
4. Selalu hadir saat anak memerlukan ayahnya terutama saat sedih dan saat anak sakit
5. Selalu hadir saat anak melakukan unjuk kemampuannya.
6. Melakukan kegiatan bersama,  misal ibadah, rekreasi, mendampingi belajar,  bermain, membuat prakarya dll
7. Ayah harus banyak berdialog dengan anak.
Dalam al-Quran terdapat 17 dialog pengasuhan, 14 diantaranya yaitu dialog antara ayah dan anak. ini adalah bukti, bahwa ayahlah yang memiliki peran utama dalam pengasuhan. Yang menjadi kepala sekolah sekaligus perancang kurikulum pendidikan bagi anggota keluarganya.
Dialog ayah dengan anak dalam Alquran bisa kita lihat dalam beberapa ayat berikut ini:
Al-Baqarah: 132-133
Al-An’am: 74
Hud: 42-43
Yusuf: 4-5
Yusuf: 11-14
Yusuf: 16-18
Yusuf: 63-67
Yusuf: 81-87
Yusuf: 94-98
Yusuf: 99-100
Maryam: 41-48
Al-Qashash: 26
Luqman: 13-19
Ash-Shaffat: 102

📚Referensi:

🖍️Fitrah Based Education - Harry Santosa
🖍️Renungan Dahsyat untuk Orangtua - Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
🖍️Sudahkah Aku Jadi Orangtua Shaleh? - Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
🖍️Yuk, Jadi Orangtua Shalih! Sebelum Meminta Anak Shalih - Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
🖍️7 Kiat Orangtua Shalih Menjadikan Anak Disiplin dan Bahagia - Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
🖍️Fatherman - Bendri Jaisyurahman
🖍https://quranikids.com/dialogdalamalquran/
[12/8 15.29] +62 812-3108-0806: Sepertinya mba eva masih berhalangan, saya bantu share dsni ya 🤭

Pertanyaan

  1. Nama : Rohayati 
Domisili : Indramayu 

Terkait peran ayah dalam pengasuhan, bagaimana jika ada seorang istri yang ditinggal (meninggal dunia)  oleh suami nya tapi memilih untuk tidak menikah lagi, sedangkan dia mempunyai 2 anak laki-laki yang masih kecil (usia tk dan Sd)... 
Apakah akan berpengaruh terhadap tumbuh kembang fitrah seksualitas nya?

Jawab

Mba Eva : Hai mba rohayati😊

Sangat berpengaruh dan kita harus mencari sosok terpercaya yang bisa menggantikan peran ayah untuk anak-anak kita
Seperti halnya rosulullah yang sosok ayahnya setelah meninggal digantikan oleh kakeknya dan setelah kakeknya meninggal peran nya digantikan oleh pamannya
Kenapa hal ini harus dilakukan agar anak laki2 dan perempuan kita tidak kehilangan fitrah seksualitas nya,kalo tidak ada sosok ayah atau saudara terdekat bisa digantikan oleh ustadz/guru yang amanah dan terpercaya.

Pertanyaan

2. Nama : yeni 
Pertanyaan : apa yang bisa saya lakukan sebagai istri jika suami memiliki inner child pasangan yang sejak kecilnya tidak ada peran ayah. Bagaimana agar ia menjadi ayah yang baik ut anaknya. Terima kasih

Jawab
Mba Eva: Hi mb @⁨Yeni Prayogi⁩ 🙋🏻

Klo menurut saya, suaminya harus berdamai dlu dengan masa lalunya dan mengingat2 lagi pasti ada peran pengganti ayah yang dapat beliau contoh dan yang membentuk diri suami mba yeni. Cara berdamainya bisa dengan konsultasi dgn tenaga ahli.

Mba Rima : Pengalaman saya dirumah dulu suka susah banget kalo nasehatin suami yang terkadang cuek sama anak2 dan kadang dirumah hpan terus kalo saya bilangin ujung2nya suka berantem
Lalu tiap akhir bulan suka diajak kajian keluarga ustadz Bendri di mesjig UI Alhamdulillah sekarang banyak berubah

 Ditambah mengikuti kajian ilmu,  membaca buku terkait ttg itu, dan sering mengajak suami berdiskusi

Pertanyaan

3 . Mba ⁨Leli Rosiyana:
Mhn ijin bertanya ya mbk 🥰

1. Unt di hadis ibnu qoyyim di atas, yg dimaksud "memuaskan syahwat" anak ini yg bagaimana kah mb?
Kemudian adakah rules / batasan2 dalam melaksanakan tugas tersebut?
Apabila belum terlaksana apakah ada dampak yg akan terjadi dan agaimana menanggulanginya?

2. Bagaimana treathmen unt ayah yg kurang bisa mengekspresikan rasa ke anak? Terutama perhatiannya. Krn si ayah ini anak tunggal sih sehingga karakter si ayah cenderung plegmatis.

Terima kasih atas jawabannya 😊🙏🏻

Jawab

Mba Eva : Jawaban dari kelompok kami:

1. Memuaskan syahwat (keinginan)  maksudnya, keinginan anak untuk melakukan sesuatu yg baik untuk perkembangannya,  misal bermain. Karena dunia anak adalah dunia bermain, jd semua kegiatannya dikemas dg permainan yg membuat anak suka, tidak menuntut sesuatu yg tidak sesuai dg umurnya.

Jadi sesibuk apapun kita jangan pernah mengabaikan anak-anak kita berusaha lah untuk selalu meluangkan waktu dan perhatian anak kita karena yang mereka butuhkan bukan hanya materi semata
Sampai mana batasannya?
Mungkin batasannya selama hal itu tidak melanggar syariat agama 🙏

Mba Eva : 2. Caranya antara lain :
1. Sengaja diberikan waktu hanya berdua untuk ayah dan anak agar bermain bersama. 
Bisa meminta ayah untuk menjaga anak saat ditinggal ibu ke pasar. Atau meminta ayah mengantar anak bermain di taman.
3. Bila anak menangis dan sedih minta ayah untuk memberi perhatian
4. Minta ayah untuk ikut merawat anak (menyuapi, memandikan, dll)
5. Meminta ayah untuk tidak membawa pekerjaan ke rumah, agar ada waktu buat anak
6. Meminta ayah agar tidak menggoda anak secara berlebihan

Mba Eva : Sayyidina Ali bin Abi Thalib Ra, sahabat Rasullulah telah mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya mendidik anak. Berikut 3 tahapan mendidik anak secara Islami yang dipastikan berkahnya baik untuk sang anak maupun keluarganya;

Perlakukanlah Anak Usia 0 Hingga 7 Tahun Layaknya Seorang Raja

Panduan mendidik anak secara islami

Pendidikan anak dalam keluarga dimulai sejak usia 0 lewat men-tahnik yang kemudian dilanjutkan dengan peran ayah yang sangat penting pada usia ini. Didiklah anak layaknya seorang raja dengan ketulusan dan kelembutan karena hal itu sangat berpengaruh pada perilaku mereka kelak ketika dewasa. Di usia ini perlu bagi sang ayah untuk memberikan waktu yang berkualitas dengan menunjukan kasih sayang, dan keteladanan.

Selayaknya memperlakukan seorang raja, sesibuk apapun kita, kala ia memanggil hendaknya kita menghampirinya. Jangan menunggu sampai ia menangis atau berteriak lebih kencang. Kelak ketika dewasa mereka tidak akan menangguhkan panggilan kita, sesibuk apapun mereka.

Begitu pula apabila sang anak melakukan kesalahan, hadapilah dengan lemah lembut.

Perlakukanlah Anak Usia 7 Hingga 14 Tahun Layaknya Seorang Tahanan

Tahapan mendidik anak menurut Islam

Cara mendidik anak usia dini di rentang usia 7 hingga 14 tahun adalah menanamkan disiplin, kejujuran, kebiasaan baik dan yang terpenting adalah menanamkan Iman kepada Allah s.w.t.

Menanamkan Iman saat rentang usia ini, jauh lebih penting dibandingkan Al-quran. Hal ini sebagaimana yang disebutkan (dalam riwayat), bahwasanya yang termasuk dari petunjuk shahabat dan juga Sunnah adalah mengajarkan tauhid dulu kepada anak-anak sebelum al-Quran, bukan malah sebaliknya (yakni mengajar al-Quran dulu baru tauhid) sebagaimana mayoritas manusia saat ini.

قال جندب بن جنادة رضي الله عنه: كنا مع النبي صلى الله عليه وسلم ونحن فتيان حزاورة فتعلمنا الإيمان قبل أن نتعلم القرآن ثم تعلمنا القرآن فازددنا به إيمانا، وأنتم اليوم تعلمون القرآن قبل الإيمان. رواه ابن ماجه وصححه الألباني



Jundub bin Junadah –radhiyallahu ‘anhu– berkata, “Kami telah bersama Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika kami masih sangat muda. Kami mempelajari iman sebelum belajar al-Quran, kemudian barulah kami mempelajari al-Quran hingga bertambahlah keimanan kami karenanya.” (HR. Ibn Majah dan disahihkan oleh al-Albani)

Anak pada usia 7 hingga 14 tahun diberkahi dengan daya tangkap dan daya tiru yang luar biasa oleh karena itu selain menanamkan Iman, mendidik anak pada usia 7 – 14 tahun secara Islami para orang tua juga harus menjauhkan dari perilaku syirik, termasuk salah satunya mempercayai atau bermain main dengan ramalan bintang.

Dilanjutkan dengan membiasakan bersyukur pada Allah s.w.t pada saat kondisi lapang maupun sulit perlu ditanamkan pada usia ini, berikut dengan kebiasaan mendirikan sholat fardhu dan tidak boros dalam mempergunakan harta.

Perlakukanlah Anak Usia 14 Hingga 21 Tahun Layaknya Seorang Kawan
Pada usia ini anak akan mengalami banyak perubahan, Usia ini adalah usia dimana anak tengah mengalami masa pubertas. Masa dimana mereka menginjak aqil baligh. Di usia ini sahabat Ali r.a mengajak orang tua untuk memperlakukan anak sebagai seorang sahabat.

Di sini ia membutuhkan sosok sahabat untuk diajak bercerita, Orang tua hendaknya tidak terlalu mengekang namun juga tidak melepaskan secara menyeluruh tentang apa yang akan mereka lakukan. Orang tua memberikan mereka kebebasan selama masih tidak bertentangan dengan Quran dan As-Sunnah, agar mereka tidak jatuh pada hal yang salah dan tidak baik menurut syariat.
http://deerham.com/tahapan-mendidik-anak-secara-islami/👆🏻

Mba Meliasari : Tambahan utk no 1 jg, kalo keinginan anak tidak terpuaskan (masa2 bermainnya),  maka akan didapati orang dewasa yg kekanak-kanakan. Cr menanggulanginya dg mendidik sesuai tahapan rosulullah SAW di atas td



#kuliahbunsayIIP
#fitriahseksualitas
#learningbyteaching

Level 11 Day 4

Fitrah seksualitas
Bismillah


Saya dan suami LDR 6 bulan sekali ketemu karena tuntutan kerjaan suami yang jauh di Timika Papua. Berdampak pada fitrah seksualitas pada anak2 karena kurang perhatiannya dari ayah , Alhamdulillah peran ayah bisa digantikan oleh kakeknya . Anak2 dengan kakeknya begitu dekat, sampai menjadi panutan untuk mereka yang apa2 pengen seperti ngking ( sebutan kakeknya).

ini disampaikan oleh Harry Santosa, pakar parenting berbasiskan fitrah. Ia menjelaskan, fitrah seksualitas ini perlu dirawat dengan kehadiran, kedekatan, kelekatan Ayah dan Ibu secara utuh dan seimbang sejak anak lahir sampai usia akil baligh (15 tahun).

“Ayah berperan memberikan Suplai Maskulinitas dan Ibu berperan memberikan Suplai Femininitas secara seimbang. Anak lelaki memerlukan 75% suplai maskulinitas dan 25% suplai feminitas. Anak perempuan memerlukan suplai femininitas 75% dan suplai maskulinitas 25%,”

Jika tidak ada ayah, harus ada pengganti ayah seorang laki-laki yang bisa dijadikan panutan untuk anak2 . Maksya Allah💓





#kuliahbunsayIIP
#fitrahseksualitas
#day4
#learningbyteaching

Minggu, 11 Agustus 2019

Level 11 Day 3

Day 3
Peran Orang Tua Dalam Membangkitkan Fitrah Seksualitas


*A. Pengertian Peran & Fitrah Seksualitas*

• Pengertian peran menurut Soerjono Soekanto (2002:243), yaitu peranmerupakan aspek dinamis kedudukan (status), apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka ia menjalankan suatu peranan.
• Pengertian fitrah seksualitas adalah membangkitkan, menumbuhkan dan merawat fitrah sesuai gendernya.
• Seorang laki-laki merasa, berfikir, bertindak dan bersikap sebagai laki-laki, begitupun seorang perempuan.
• Jadi, Peran Orangtua dalam membangkitkan Fitrah seksualitas Anak adalah merupakan suatu kewajiban dalam sebuah pengasuhan.
seperti yang kita ketahui dalam pengertian tersebut . Peran adalah suatu hak dan kewajiban sesuai dengan kedudukannya. Seperti Peran kita sebagai Orangtua, kita mempunyai Hak dan Kewajiban dalam menjaga fitrah Anak, termasuk fitrah seksualitas nya.
Jadi, Peran orangtua sangat penting dalam membangkitkan seksualitas anak ?

*PENTING* bangettttttt buuuuk !

*B. Pentingnya peran orangtua dalam membangkitkan fitrah seksualitas*

• Untuk Membangkitkan Fitrah Seksualitas harus dimulai dari Peran Orangtua, Orangtua harus punya kesadaran terlebih dahulu, terutama kesadaran tentang Agama.


Menurut Hasan Al-Banna, Kesadaran Meliputi :
• 1. Kesadaran Agama secara Individu / Pribadi
• 2. Kesadaran Agama yang dicapai oleh keluarga
• 3. Kesadaran Agama yang dicapai oleh Masyarakat secara umum
• 4. Kesadaran Agama yang dicapai oleh Pemerintah


• Kesadaran dari Pribadi sendiri sebagai Orangtua, sangat begitu penting dalam membangkitkan Fitrah Seksualitas. Kita Sebagai Orangtua harus sudah mempersiapkan diri dimulai jauh sebelum anak lahir. kemudian berlanjut setelah anak dilahirkan hingga ajal menjemput

• Kedekatan secara parallel / bertahap akan membuat anak secara imaji mampu membedakan sosok lelaki dan perempuan, sehingga mereka secara alamiah paham menempatkan dirinya sesuai seksualitasnya, baik cara bicara, cara berpakaian maupun cara merasa, berfikir dan bertindak sebagai lelaki atau sebagai perempuan dengan jelas. Ego sentris mereka harus bertemu dengan identitas fitrah seksualitasnya, sehingga anak di usia 3 tahun dengan jelas mengatakan "saya perempuan" atau "saya lelaki"

• Jadi dalam mendidik fitrah seksualitas, figur ayah ibu senantiasa harus hadir sejak lahir sampai Aqil Baligh. Sedangkan dalam proses pendidikan berbasis fitrah, mendidik fitrah seksualitas ini memerlukan kedekatan yang berbeda beda untuk tiap tahap.

*C. Tahapan Mendidik Fitrah Seksualitas*

• *1. Usia 0 -2 tahun*
Dekatkan anak dengan ibunya. Pada usia 0-2 tahun, anak masih menyusu pada ibunya.Menyusui adalah pondasi penguatan konsepsi semua fitrah.
• *2. Usia 3-6*
Pada tahapan ini penguatan konsepsi gender dengan penggambaran positif gender masing-masing. Anak laki-laki dan perempuan harus didekatkan dengan kedua orang tuanya. Indikator pada tahapan ini adalah anak dapat menyebutkan dengan jelas dan bangga dengan gendernya di usia tiga tahun.
• *3. Usia 7-10 *
Penyadaran potensi gender dengan aktivitas yang relevan dan beragam sesuai gendernya.
Ayah mengajak anak laki-laki berperan dan beraktivitas sebagai laki-laki di kehidupan sosialnya. Termasuk menjelaskan tentang mimpi basah, fungsi sperma, dll.
Ibu mengajak anak perempuan beraktivitas sebagai perempuan di kehidupan sosialnya. Dijelaskan tentang menstruasi, dll.
Indikator pada tahap ini, anak laki-laki mengagumi ayahnya dan anak perempuan mengagumi ibunya.
• *4. Usia 11-14 (pre aqil baligh)*
Tahap pengujian eksistensi melalui ujian di kehidupan nyata.
Anak laki-laki didekatkan dengan ibunya dan memahami cara pandang perempuan (ibunya).Anak perempuan didekatkan dengan ayahnya dan memahami cara pandang laki-laki (ayahnya).
Indikator pada tahapan ini adalah persiapan dan keinginan menjadi ayah bagi anak laki-laki dan menjadi ibu bagi anak perempuan.
• *5. Usia 15 tahun*
Penyempurnaan fitrah seksualitas sehingga berperan keayahbundaan. Pada tahapan ini anak sudah dibebani beban syariah, dan berubah stastusnya menjadi mitra orang tua. Anak sudah siap berperan sebagai ayah dan bunda sejati

*D. Prinsip Fitrah Seksualitas Anak*

• *Prinsip 1*
• Fitrah seksualitas memerlukan kehadiran, kedekatan, kelekatan anak sejak lahir sampai usia 15 tahun dengan figur ayah dan ibu secara utuh dan seimbang.

• *Prinsip 2*
• Ayah berperan memberikan suplai maskulinitas dan ibu memberikan suplai femininitas. Anak-anak laki-laki mendapatkan suplai 75% maskulinitas, dan 25% femininitas, sedangkan anak perempuan 75% femininitas dan 25% maskulinitas.

• *Prinsip 3*
• Penumbuhan fitrah seksualitas yang paripurna, melahirkan lelaki yang mempunyai peran keayahan sejati dan perempuan yang berperan kebundaan sejati. Mereka memiliki ahlak yang mulia terhadap pasangan dan keturunannya.
• Jika anak kehilangan sosok ayah atau bunda, maka harus dicarikan figur pengganti dari keluarga atau komunitas

*E. Perintah Bagi Orangtua Menjaga Fitrah Anak dalam Al-Quran atau Hadist*

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ

“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.”



فَلَمَّا وَضَعَتۡہَا قَالَتۡ رَبِّ اِنِّیۡ وَضَعۡتُہَاۤ اُنۡثٰی ؕ وَ اللّٰہُ اَعۡلَمُ بِمَا وَضَعَتۡ ؕ وَ لَیۡسَ الذَّکَرُ کَالۡاُنۡثٰی ۚ وَ اِنِّیۡ سَمَّیۡتُہَا مَرۡیَمَ وَ اِنِّیۡۤ اُعِیۡذُہَا بِکَ وَ ذُرِّیَّتَہَا مِنَ الشَّیۡطٰنِ الرَّجِیۡمِ

“Ya Tuhanku, aku telah melahirkan anak perempuan.” Padahal Allah lebih tahu apa yang dia lahirkan, dan laki-laki tidak sama dengan perempuan. ”Dan aku memberinya nama Maryam, dan aku mohon perlindungan-Mu untuknya dan anak cucunya dari (gangguan) setan yang terkutuk.”

*F. Riset*
Riset banyak membuktikan bahwa anak anak yang tercerabut dari orangtuanya pada usia dini baik karena perang, bencana alam, perceraian, dll akan banyak mengalami gangguan kejiwaan, sejak perasaan terasing (anxiety), perasaan kehilangan kelekatan atau attachment, sampai kepada depresi. Kelak ketika dewasa memiliki masalah sosial dan seksualitas seperti homoseksual, membenci perempuan, curiga pada hubungan dekat dsbnya.

*G. Menurut Ahli (Harry Santosa)*

• Pendidikan fitrah seksualitas berbeda dengan pendidikan seks. Pendidikan fitrah seksualitas dimulai sejak bayi lahir.
• Fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang berfikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati.
• Menumbuhkan Fitrah ini banyak tergantung pada kehadiran dan kedekatan pada Ayah dan Ibu.


Sesi Tanya Jawab :

Nama : ida
Domisili : Cirebon
Pertanyaan :

“apa dampaknya jika tahapan fitrah seksualitas itu terlewati salah satu atau dua tahap dan apa yg harus dilakukan orangtua jika sudah terlanjur terlewati tahapannya?”

Jawaban :

*Jika Anak Laki-Laki Tidak dekat dengan Ayah*
1. Emosi yang tidak stabil
• Dampak buruk yang pertama adalah ketidakstabilannya emosi si anak. Anak laki-laki yang tidak dekat atau bahkan kehilangan sosok ayah akan cenderung mudah depresi, mudah frustasi , emosi yang mudah berubah, agresif dan mudah cemas.
• Anak dengan emosi yang buruk seperti ini tentu akan memberi dampak juga pada kehidupan sosial, pengendalian diri serta pengambilan keputusan saat dia telah dewasa kelak.
2. Selalu berusaha cari perhatian dari lingkungan
• Anak yang kurang kasih sayang ayah atau dalam psikologi diisitilahkan sebagai fatherless cenderung mencari perhatian dari lingkungannya. Anak dengan kondisi seperti ini sering berbuat hal-hal aneh, membuat kenakalan dan juga iseng untuk mendapat perhatian dari lingkungan.
• Dalam beberapa kondisi anak yang tidak dekat dengan ayah mencari pengakuan dari lingkungan dengan ambisi menjadi ketua, public figur, artis. Mereka butuh pembuktian dan pengakuan dari lingkungan sekitar.
3. Kesulitan untuk menjadi ayah dan suami yang baik
• Guru pertama kita tentulah ayah dan ibu kita. Jika ada anak laki-laki maka dia akan belajar pertama kali bagaimana menjadi seorang ayah sekaligus seorang suami tentu dari ayahnya sendiri. Dia melihat bagaimana ayahnya memperlakukan dirinya sebagai anak dan juga memperlakukan ibunya sebagai istri.
• Anak yang tidak bersama dengan ayah semenjak kecil tentu akan kehilangan kesempatan untuk belajar hal ini. Sehingga pada akhirnya malah dia akan ikut-ikutan seperti pola yang dilakukan oleh ayahnya. Misalkan sang ayah pergi meninggalkannya sewaktu kecil maka saat menikah dia pun berpotensi untuk meninggalkan anaknya kelak. Seperti kata pepatah buah takkan jatuh jauh dari pohonnya. Tentu hal ini tidak terjadi jika sang anak belajar dan ingin menjadi lebih baik dibandingkan dari ayahnya.


*Jika Anak Laki-Laki Tidak dekat dengan Ibu*
• Kelak saat menjadi suami, cenderung akan bersifat kasar dan kaku
• Kelak susah memahami perasaan istrinya
• Tidak mesra dengan anak nya nanti.

*Jika Anak Perempuan Tidak dekat dengan Ibu*
• Karakter keibuannya akan hilang
• Kelak cenderung menjadi introvert

*Jika Anak Perempuan Tidak dekat dengan Ayah*
• Pergaulan yang tidak terkontrol hingga terjerumus pergaulan bebas Saat anak perempuan tidak mendapatkan kasih sayang, kelembutan dan kedekatan dari sosok ayah dalam hidupnya cenderung akan mencari sosok tersebut di luar. Satu hal yang banyak terjadi adalah saat dia menemukan apa yang dia cari selama ini dari laki-laki lain, pacarnya. Dia mendapatkan kasih sayang, dihargai dan didengarkan sehingga dia rela memberikan apapun pada laki-laki tersebut, termasuk kehormatannya. Jadilah ini sebagai awal baginya terjeremus pada pergaulan bebas.
• Sulit untuk percaya dan menerima laki-laki sebagai suaminyaDalam beberapa kasus anak perempuan yang jauh dari ayah biasanya menyimpan dendam pada ayahnya. Mungkin sebab ayah yang mengecewakan ibunya, ayahnya berselingkuh atau pergi tanpa mempedulikan dia sama sekali. Pada akhirnya anak yang mengalami hal ini sulit untuk percaya pada laki-laki, ia bahkan cenderung menyamakan kalau laki-laki semuanya sama.Ujung dari dampak buruknya adalah sulitnya anak perempuan ini menemukan jodohnya atau malah trauma untuk menikah.
• Tidak menemukan jodoh yang idealSalah satu kewajiban seorang ayah terhadap anak perempuannya adalah mencarikan calon suami terbaik untuk anaknya. Baik agamanya, baik akhlaknya dan tentu juga baik asal usul keluarganya. Jika seorang ayah abai dan tidak peduli pada anaknya, tentu sang anak mencari jodohnya sendiri tanpa memperhatikan kriteria-kriteria jodoh terbaik yang sudah ditentukan oleh Islam.


Apa yang harus dilakukan ??
• Orangtua tetap melanjutkan tahapan selanjutnya dengan terus memberikan konsep konsep tentang fitrah seksual yg terlewat sebelumnya.
• Orangtua harus mempunyai kesadaran diri untuk membayara hutang pegasuhan, terutama sang Ayah. Sang Ayah bisa medekatkan diri dengan Anak dengan berbagai kegiatan positif yg dilakukan bersama. Seperti berkemah bersama, bermain panah bersama, berdiskusi bersama, menonton bersama, dll. (untuk Anak laki-laki)
• Untuk Anak Perempuan Ibu bisa mendekatkan diri dengan anak dengan cara berdiskusi Bersama tentang kewanitaan, belajar Bersama, belanja Bersama, Menjahit Bersama, Ddll
  ------------------------------------------------------------------



Nama : melia sari
Domisili : Genteng,  Banyuwangi
Pertanyaan :

“apakah memberi tugas harian ke anak usia 7-10 th seperti menyapu untuk anak laki2, menyalahi tahapan membangkitkan fitrah seksualitas anak?”

Jawaban :

• Seorang anak laki-laki akan tumbuh menjadi pria dewasa, yang suatu saat akan menikah dan memiliki anak-anak. Bagaimana bisa si anak laki-laki memimpin anak dan istrinya menuju kehidupan bahagia, jika ia tak memahami dan mampu melakukan tugas rumah tangga sederhana seperti membersihkan bak mandi atau membersihkan debu yang menempel di perabotan rumah?
• Bukankah melimpahkan semua tugas di rumah pada istri atau asisten rumah tangga hanya akan mencetak anak yang manja dan minim pengetahuannya tentang cara membuat rumah aman dan nyaman untuk seluruh anggota keluarga? Lalu akan seperti apakah jadinya negara ini di masa depan karena  kasih sayang berlebihan para orang tua melarang anak melakukan apapun selain belajar dan bersekolah?
• Mulailah saat ini juga mengajarkan anak laki-laki Anda tentang cara membersihkan rumah, Bunda. Berikanlah tugas rumah tangga yang paling ringan dulu seperti mengelap meja, menata rak sepatu atau membereskan mainannya sendiri. Anda dapat menambahkan tugas rumah tangga lainnya beberapa saat setelah Si Kecil mulai bisa bersih-bersih meski tanpa disuruh.
• Salah satu sunnah yang mungkin mulai ditinggalkan para suami adalah membantu istri dan pekerjaannya di rumah, semoga para suami bisa menerapkan sunnah ini walaupun hanya sedikit saja. Beberapa suami bisa jadi cuek terhadap pekerjaan istri di rumahnya apalagi istri pekerjaannya sangat banyak dan anak-anak juga banyak yang harus diurus dan dididik.
‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,
كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ قَامَ إِلَى الصَّلاَة
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kesibukan membantu istrinya, dan jika tiba waktu sholat maka beliaupun pergi shalat” (HR Bukhari).
• Hal ini merupakan sifat tawaadhu’ (rendah hati) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mencontohkannya pada manusia, padahal beliau adalah seorang pimpinan dan qadhi tertinggi kaum muslimin. Bisa jadi ada suami yang merasa diri menjadi rendah jika melakukan perbuatan dan pekerjaan rumah tangga karena ia adalah orang besar dan berkedudukan bahkan bos di tempat kerjanya.

Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata menjelaskan hadits ini,

من أخلاق الأنبياء التواضع ، والبعد عن التنعم ، وامتهان النفس ليستن بهم ولئلا يخلدوا إلى الرفاهية المذمومة

“Di antara akhlak mulia para nabi adalah tawaadhu’ dan sangat jauh dari suka bersenang-senang (bermewah-mewah) dan melatih diri untuk hal ini, agar mereka tidak terus-menerus berada pada kemewahan yang tercela (mewah tidak tercela secara mutlak).” (Fathul Bari kitab adab hal. 472)

• Membantu istri bisa dilakukan dengan pekerjaan sederhana, terkadang membantu hal yang sederhana saja sudah membuat senang dan bahagia para istri, semisal menyapu emperan saja, mencuci piring dan lain-lainnya.
Dalam hadits lainnya, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan hal-hal sederhana untuk membantu istri-istri beliau semisal mengangkat ember dan menjahit bajunya.

عن عروة قال قُلْتُ لِعَائِشَةَ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِيْنَ أي شَيْءٌ كَانَ يَصْنَعُ رَسُوْلُ اللهِ  صلى الله عليه وسلم  إِذَا كَانَ عِنْدَكِ قَالَتْ مَا يَفْعَلُ أَحَدُكُمْ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ يَخْصِفُ نَعْلَهُ وَيُخِيْطُ ثَوْبَهُ وَيَرْفَعُ دَلْوَهُ

Urwah berkata kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika ia bersamamu (di rumahmu)?”, Aisyah berkata, “Ia melakukan (seperti) apa yang dilakukan oleh salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya, ia memperbaiki sendalnya, menjahit bajunya, dan mengangkat air di ember” (HR Ibnu Hibban).
------------------------------------------------------------------------------


Nama : Selvi
Domisili : Sukabumi
Pertanyaan :

“Bagaimana pandangan dari para bunda kelompok 3 dengan besarnya arus medsos yang tanpa sadar membentuk penyimpangan terhadap peran gender anak? Terimakasih”

Jawaban :

”Jika peran peran orangtua yang kami sebutkan tadi bisa di lakukan dengan maksimal. Insha Allah, hal hal dari luar seperti medsos dan lingkungan tidak bisa menembus benteng yang telah dibuat orang tua”


Sumber
https://www.elmina.id/3-dampak-buruk-jika-ayah-tidak-dekat-dengan-anak-laki-laki/
https://muslim.or.id/39376-sunnah-membantu-istri-di-rumah.html
https://id.theasianparent.com/anak-laki-laki-juga-perlu-diajarkan-bersih-bersih-rumah


Inilah hasil diskusi kelompok 3 dengan tema "Peran Orang tua dalam membangkitkan fitrah seksualitas"

Mantap dan keren👍👍


#kuliahbunsayIIP
#level11
#Peranorangtuadalammembangkitkanfitrahseksualitas

Jumat, 09 Agustus 2019

Level 11 Day 2

Assalamualaikum


Giliran kelompok saya persentasi hari ini, deg degan pasti lah, orang lain bisa kenapa kita ga bisa semangat cmiiww😍
Mencari materi dari berbagai sumber untuk tema "Pendidikan Fitrah Seksualitas sejak dini".

Dan inilah hasil materi yang didapat oleh kelompok 2:
_Pendidikan Fitrah Seksualitas Sejak Dini_*

Definisi : Apa itu fitrah?

Fitrah adalah apa yang menjadi kejadian atau bawaan manusia sejak lahir. Pengertian fitrah secara sistematik berhubungan dengan hal penciptaan (bawaan) sesuatu sebagai bagian dari potensi yang dimiliki.

💖 Fitrah seksualitas adalah bagaimana seseorang berpikir, merasa dan bersikap sesuai dengan fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati. Pendidikan fitrah seksualitas tentu berbeda dengan pendidikan seks.

💖 *Tujuan* pendidikan fitrah seksualitas ini adalah membuat anak mengetahui identitas seksualnya, anak mampu berperan sesuai dengan identitasnya dan membuat anak mampu melindungi dirinya dari kejahatan seksual.

_Mengapa harus dikenalkan sejak  dini ?_

1. Anak mengerti dan bisa memastikan identitas seksualnya, apakah dia itu laki-laki atau pun perempuan

2. Anak mengenali peran seksualitas yang ada pada dirinya sehingga mampu menempatkan dirinya sesuai peran seksualitasnya

3. Mengajarkan anak untuk melindungi dirinya dari kejahatan seksual

4. Anak memahami  batas-batas dalam berperilaku terhadap orang lain yang berbeda gender sehingga mengedepankan norma kesopanan.

💖 Siapakah yang harus berperan mengenalkan pendidikan fitrah sejak dini?

ORANG TUA.
Sosok Ayah dan Ibu senantiasa harus hadir sepanjang masa mendidik anak-anak sejak lahir hingga Aqil Bhalig tujuannya agar fitrah seksualitas anak tumbuh secara baik dan sempurna.

_Lalu bagaimana bila sejak kecil sang anak sudah tidak memilik orangtua yang lengkap ?_

Akan ada ketidak seimbangan karena  anak menjadi sulit menentukan fitrah seksualnya. 

_Akibatnya apa?_ 
Anak dapat terpapar ancaman penyimpangan dan atau bahkan kejahatan seksual dari ketidak tahuannya akan fitrah dirinya sejak kecil.

_Bagaimana menerapkan pendidikan fitrah pendidikan seksual pada anak di usia dini ?_

Menurut Harry Santosa, pakar parenting berbasiskan fitrah. Ia menjelaskan, fitrah seksualitas ini perlu dirawat dengan kehadiran, kedekatan, kelekatan Ayah dan Ibu secara utuh dan seimbang sejak anak lahir sampai usia akil baligh (15 tahun).

_Kapan pendidikan fitrah seksualitas diterapkan_ 

👉 Pada tahap usia 0-2 tahun, anak lelaki maupun anak perempuan seyogyanya lebih didekatkan kepada Ibu karena masih dalam masa menyusui. “Menyusui adalah tahap awal penguatan semua konsepsi fitrah termasuk fitrah keimanan dan fitrah seksualitas,” 

👉 usia 3 hingga 6 tahun merupakan tahap Penguatan Konsepsi Gender dengan imaji positif tentang gendernya masing masing.

👉 usia 7 hingga 10 tahun ialah fase penyadaran Potensi Gender dengan beragam aktifitas yang relevan dengan gendernya. 

👉 usia 11 hingga 14 tahun adalah tahap Pengujian Eksistensi melalui ujian dalam kehidupan nyata.

👉 usia 15 tahun hingga lebih ialah tahap penyempurnaan fitrah seksualitas sehingga menjadi peran keayahbundaan.

*Catatan 1:*
Anak anak yang kehilangan salah satu sosok orangtua baik karena meninggal atau karena perceraian, maka wajib segera diberikan sosok pengganti sampai mencapai aqilbaligh baik dari keluarga besar maupun komunitas/jamaah kaum Muslimin.

*Catatan 2:*
Fitrah Seksualitas ini tidak tumbuh berdiri sendiri harus pula diiringi tumbuhnya fitrah lainnya seperti fitrah keimanan, fitrah individualitas dan fitrah sosialitas sehingga agar juga tidak mudah ditularkan penyimpangan seksual oleh lingkungan.

*Catatan 3:*
LGBT jelas adalah penyimpangan fitrah seksualitas, bukan genetik tetapi karena salah pengasuhan atau tidak diagendakan dalam pendidikan atau penularan perilaku lingkung.

Alhamdulillah mungkin materi sudah cukup jelas buat temen2 diskusi sehingga tak ada pertanyaan untuk kelompok kami👏👏.

Sekian untuk tulisan hari ini.
Semoga bermanfaat untuk pembaca semua.


Referensi : Hary Santosa (Pakar Parenting)



#level11
#Fitrah seksualitas
#kuliahbunsayIIP

Kamis, 08 Agustus 2019

Level 11 Day 1


Fitrah Seksualitas
Day 1


A. Pengertian Gender

John M. Echols & Hassan Sadhily mengemukakan kata  gender berasal dari bahasa Inggris yang berarti jenis kelamin (Rahmawati, 2004: 19). Secara umum, pengertian  Gender adalah perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan apabila dilihat dari nilai dan tingkah laku. 

Baron (2000: 188) mengartikan bahwa gender merupakan sebagian dari konsep diri yang melibatkan identifikasi individu sebagai  seorang laki-laki atau perempuan.

Selain itu, istilah gender merujuk pada karakteristik dan ciri-ciri sosial yang diasosiasikan pada laki-laki dan perempuan. Karakteristik dan ciri yang diasosiasikan tidak hanya didasarkan pada perbedaan biologis, melainkan juga pada interpretasi sosial dan cultural tentang apa artinya menjadi laki-laki atau perempuan.

B. Pentingnya Mengenalkan Gender pada Anak Usia Dini

🌀Di usia dini anak sedang mengalami masa golden age dimana anak memiliki ketertarikan tentang perbedaan tentang anak laki-laki dan perempuan. Tentang apa yg dipakai sebagai identitas kelaki-lakian dan keperempuanan, baik dr pakaian, mainan, hobi dll.

🌀Pendidikan gender akan tersimpan di dalam memori jangka panjang si kecil yg berpengaruh pada pembentukan perilaku dan kepribadian ketika anak dewasa.

🌀Bertujuan sebagai pendidikan seksual kepada anak
Sehingga akan tercapai kefahaman anak bahwa laki2 adalah laki2 dan perempuan adalah perempuan, tidak ada yg dipertengahan.
 Ketika kita tuntas di sesi pengenalan dan pemahaman gender ke anak, maka dimasa depan tidak akan ada anak yg merasa terperangkap dalam tubuh yg salah, merasa jiwanya perempuan tp fisiknya laki-laki.

Sudah merasa sesuhu kita ya bunda terkait pentingnya pengenalan gender ke anak? apalagi dg adanya kampanye LGBT yg kadang bikin merinding krn sampai melalui film kartun yg disenangi anak-anak.

C. Cara Mengenalkan Konsep Gender pada Anak

🎈Melalui Pola Asuh yg Benar dan Tepat Sesuai Gender Anak 

Kenapa harus tepat?? Karena akan berdampak pada masa depan anak.Contoh orangtua saat hamil menginginkan anak perempuan, ketika lahir ternyata anak laki-laki, dari bayi anak sudah diasuh dengan cara seperti merawat bayi perempuan bukan laki-laki. Disitu akan membawa dampak pada anak yaitu anak salah dalam penempatan gender, yang seharusnya berperilaku seperti laki-laki tetapi jadi seperti perempuan dan anak pasti bingung dengan peran yang seharusnya ada pada dirinya.

🎈Melalui Media 
Media yg kita gunakan misal buku cerita, kita pilih buku cerita yang disukai oleh anak, meskipun dengan dibacakan, anak-anak akan antusias mendengar cerita yang mereka sukai dan sambil bercerita orangtua dapat menanyakan tokoh dari cerita tersebut, apakah mirip dengan ayah atau ibu dan menanyakan hal-hal yang mengarah kepada perbedaan gender. 

Bisa juga dg menonton film bersama sebagai media pengenalan gender terhadap anak, sama halnya dengan buku cerita.

🎈Melalui Permainan 
Bisa dg mainan sesuai peruntukan gender atau juga dengan bermain peran ayah ibu, sehingga anak faham tugas dan tanggung jawab bagi laki-laki dan perempuan
Kita coba gali bagaimana gender dibahas dalam islam
Untuk pengenalan melalui media dan permainan ini sangat fleksibel, tergantung kreatifitas bunda masing-masing 😊

D. Perbedaan Gender dalam Al Qur'an

📝Kodrat Laki-laki sebagai pemimpin dan hukum syari'at

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisa` [4]: 34)

📝Allah muliakan wanita dg turunnya surat An Nisa

📝 Wanita sebagai simbol kasih sayang dan ketentraman
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir .” (QS. Al Rûm [30]: 21)

📝Kesetaraan dalam beribadah
وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا

“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (QS. An Nisa [4]:142)

Setelah kita faham bagaimana Allah dan Rosulullah menginginkan setiap anak tumbuh sesuai dg fitrohnya sebagai laki2 dan perempuan seutuhnya, kita akan masuk ke bahasan terakhir
[08/08, 12:35] IP leli: Dalam hadist Rosulullah menegaskan terkait perbedaan gender:

لَعَنَ اللَّهُ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ

“Allah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita, begitu pula wanita yang menyerupai laki-laki” 
(HR. Ahmad no. 3151, 5: 243)

E. Cara Mengenalkan Perbedaan Gender

🎍Orang tua menjadi teladan (menjalani peran sesuai indikator keayah bundaan)
🎍Dorong anak bermain dengan semua temannya
🎍 Perkuat perilaku tanpa melabeli perilaku (menghindari pelabelan suatu perilaku dengan stereotip gender tertentu, seperti anak laki-laki tidak boleh cengeng dll)
🎍 Perkenalkan beragam profesi (anak bisa menjadi apa pun yang ia mau tanpa membedakan jenis kelaminnya namun tetap dalam koridor syari'at)



F. Sumber 




Al-Qur'an

Gambar Ppt diambil dr buku Fitrah Based Education


#level11
#kuliahbunsayIIP
#Fitrahseksualitas