Kamis, 15 Agustus 2019

Level 11 Day 8

Fitrah Seksualitas
Day 8









*Definisi Pelecehan* *seksualitas*

Pelecehan seksual adalah perilaku pendekatan-pendekatan yang terkait denga bn seks yang tak diinginkan, termasuk permintaan untuk melakukan seks, dan perilaku lainnya yang secara verbal ataupun fisik merujuk pada seks.

 *Pelecehan seksual terhadap anak*
adalah suatu bentuk penyiksaan anak di mana orang dewasa atau remaja yang lebih tua menggunakan anak untuk rangsangan seksual. Bentuk pelecehan seksual anak termasuk meminta atau menekan seorang anak untuk melakukan aktivitas seksual (terlepas dari hasilnya), memberikan paparan yang tidak senonoh dari alat kelamin untuk anak, menampilkan pornografi untuk anak, melakukan hubungan seksual terhadap anak-anak, kontak fisik dengan alat kelamin anak (kecuali dalam konteks non-seksual tertentu seperti pemeriksaan medis), melihat alat kelamin anak tanpa kontak fisik (kecuali dalam konteks non-seksual seperti pemeriksaan medis), atau menggunakan anak untuk memproduksi pornografi anak.

[15/8 10.03] +62 813-8156-9855: *Efek kekerasan seksual terhadap anak*

✅ Psikis : depresi, ketakutan, trauma, dll
✅ Seksual : rusak hingga tidak berfungsinya organ seksual
✅ Relasi Seksual : pengucilan, stigmatisasi, berkurangnya kesejahteraan sosial
✅ Hak melanjutkan pendidikan : dilarang mengikuti ujian, dikeluarkan dari sekolah
✅ Hilangnya nyawa

di antara masalah lainnya. Pelecehan seksual oleh anggota keluarga adalah bentuk *_incest_* dan dapat menghasilkan dampak yang lebih serius dan trauma psikologis jangka panjang, terutama dalam kasus *_incest* orang tua.
[15/8 10.04] +62 813-8156-9855: *Bagaimana orangtua mencegah pelecehan seksual pada anak*

➡️ *Ajarkan anak tentang anatomi tubuhnya*

Pengenalan anggota tubuh harus dilakukan sedini mungkin, termasuk dengan penamaan yang tepat untuk genitalia mereka. Banyak orangtua yang memilih ‘menghaluskan’ istilah anatomi tubuh seperti “payudara”, “penis”, atau “vagina” dengan kata-kata yang menurut mereka lebih bisa diterima. Cara ini salah. Dengan mengajarkan anak nama-nama yang tepat untuk setiap bagian tubuh, mereka akan lebih akurat saat menceritakan apa yang terjadi pada mereka jika seseorang melecehkan mereka. Dengan menggunakan istilah anatomi yang sesuai, semua orang yang terlibat akan memahami persis apa yang anak-anak maksud guna meminimalisir kemungkinan salah tafsir. Misalnya, akan jauh lebih jelas jika seorang anak bisa melaporkan pelecehan yang terjadi dengan, “orang itu menyentuh vaginaku dengan penisnya” dibanding dengan jika ia mengatakan “orang itu pegang burungku.”

➡️ *Ajarkan anak mengenai batasan
Prinsip*

yang paling utama yang harus Anda ajarkan sejak dini adalah tubuh adalah milik pribadi, bahwa setiap manusia memiliki hak untuk menentukan apa yang bisa dan akan mereka lakukan terhadap tubuhnya masing-masing, siapa yang boleh menyentuhnya, dan bagaimana orang lain menyentuh tubuh mereka. Hak setiap anak harus dijamin dan diperlakukan sama, layaknya orang dewasa.

➡️ *Ajarkan pula bahwa ada area-area tertentu yang tidak boleh dilihat atau disentuh sama sekali oleh orang lain,*

Dengan catatan, jika kondisi tubuh anak mengharuskan untuk diperiksa oleh tenaga medis, jelaskan bahwa hal tersebut boleh-boleh saja karena pemeriksaan ini berkaitan dengan kesehatannya, dan temani anak selama pemeriksaan berlangsung. Hormati pula keinginan mereka, dan pastikan mereka mengetahui bahwa tidak siapapun, termasuk Anda, memiliki hak untuk menyentuh mereka tanpa seizin mereka. Tanyakan pada anak sebelum menyentuh mereka, seperti, “Mau mama gendong, nggak?” dan jangan berasumsi segala hal tidak apa-apa untuk dilakukan. Minta izin mereka untuk berikan ciuman, jangan langsung lakukan hal tersebut. Jangan sembarangan meminta mereka untuk memberikan ciuman atau pelukan kepada orang lain jika mereka tidak mau. Ajarkan mereka untuk bisa menolak dengan sopan.

➡️ *Ajarkan anak untuk menghormati tubuhnya dengan mengajarkan mereka untuk menghormati tubuh* *orang lain.*

Ajarkan anak-anak sejak dini untuk tidak melakukan apapun terhadap orang lain jika orang tersebut tidak menginginkannya. Contohnya, jika ia menggelitik Anda, atau saudaranya, terus menerus, Anda bisa dengan lugas katakan, “Aku tidak mau dikelitikin. Tolong hentikan, ya.” dan pastikan anak-anak Anda menghormati keputusan Anda. Mengajarkan dengan contoh akan lebih mudah bagi anak untuk mengerti.

➡️ *Ajarkan anak untuk membedakan mana sentuhan yang baik dan yang tidak baik*

Sentuhan yang baik adalah sentuhan yang bisa memberikan kita kenyamanan dan merasa dipedulikan. Jelaskan pula pada anak bahwa terkadang, sentuhan yang baik bisa saja terasa sakit, misalnya, saat membersihkan luka. Memang sakit, tapi akan membuat ia jadi lebih baik.
Sedangkan sentuhan yang tidak baik adalah sentuhan yang menyakitkan, baik secara fisik maupun emosional. Contohnya: saat seseorang memukul, mencubit, atau menendangnya. Satu jenis sentuhan lainnya adalah sentuhan yang tidak diinginkan, yang biasanya adalah sentuhan yang baik, tapi tidak diinginkan untuk saat ini. Misalnya, diayunkan di ayunan rasanya sangat menyenangkan, tapi jika dilakukan setelah makan siang, mungkin anak Anda akan merasa pusing dan mual, makanya mereka cenderung tidak menginginkannya.

➡️ *Ajarkan anak, mana yang termasuk pelecehan seksual*

Sentuhan yang termasuk pelecehan seksual sangat jelas, tidak akan membingungkan orang lain bahkan jika menggunakan istilah yang tidak lazim digunakan. Sentuhan pelecehan seksual adalah jenis-jenis sentuhan yang membuat anak-anak takut, cemas, atau gelisah di bagian-bagian tubuh privat (yang biasanya tertutup pakaian sehari-hari, termasuk baju renang). Jelaskan kepada anak bahwa sentuhan ini mungkin seperti “baik”, tapi terasa tidak nyaman. Jelaskan pada anak bahwa jika seseorang menyentuh mereka dan kemudian meminta mereka untuk menjaga rahasia tentang sentuhan tersebut, maka sentuhan tersebut adalah pelecehan seksual. Terangkan dengan jelas bahwa pelecehan seksual juga bisa terjadi jika mereka disentuh saat mereka menggunakan pakaian lengkap, contohnya seseorang meraba celana atau rok mereka.

➡️ *Saat Anda menyentuh anak Anda, tanyakan mereka tentang arti sentuhan tersebut untuknya.*

 Tanyakan pertanyaan seperti, “Sekarang, boleh nggak aku memegang tanganmu?” atau, “Kalo sekarang orang lain (kakak/om/tante) pegang perutmu, boleh nggak?” Coba untuk minta anak menjelaskan alasan mereka mengenai boleh atau tidaknya sentuhan tersebut.

➡️ *Ajarkan anak berkata “tidak”*

Adalah hal yang sangat umum bagi anak untuk mendengar perintah seperti, “Turuti kata ayahmu!” atau, “Jangan bandel, kan ibu sudah bilang jangan lakukan itu!”. Namun, di usia sedini itu akan sangat sulit bagi anak-anak untuk bisa membedakan mana perintah yang harus mereka turuti dan perintah yang tidak harus mereka jalankan.

➡️ *Ajarkan anak bahwa mereka memiliki hak untuk menolak dan berkata tidak.*

Mayoritas kasus pelecehan anak dilaporkan berdasarkan paksaan dan bukan kekerasan fisik. Mengajarkan anak untuk bisa berkata “tidak!” dengan jelas dan tegas dapat memberikan perbedaan yang signifikan di banyak situasi. Memang ada beberapa batasan jelas di mana anak tidak bisa berkata tidak, dan disinilah kebingungan orangtua bisa terjadi. Saat berdiskusi dengan anak, perjelas bahwa mereka bisa bilang tidak kepada siapapun yang ingin mencium mulut, menyentuh vagina, penis, dada, atau bokong mereka, atau bagian-bagian tubuh lainnya yang biasanya tertutupi pakaian. Perjelas pula bahwa mereka punya hak untuk menolak dengan keras jika orang tersebut mengatakan bahwa sentuhan ini aman dan tidak akan membuat mereka dihukum. Ajari anak untuk mempercayai insting mereka dan jika sesuatu terasa aneh, katakan tidak.

➡️ *Dampingi anak di kehidupannya*

Sisihkan sebagian waktu Anda untuk bersama anak di mana mereka bisa mendapatkan perhatian penuh dari Anda. Pastikan kepada mereka bahwa mereka bisa curhat kapan saja mengenai segala hal yang terjadi di keseharian mereka, atau jika mereka memiliki pertanyaan tertentu, atau jika mereka merasa seseorang membuat mereka merasa tidak nyaman. Pastikan pula bahwa mereka tidak akan mendapat masalah jika menceritakan hal-hal tersebut. Banyak pelaku pelecehan yang menggunakan trik ancaman atau suap agar korbannya menjaga rahasia tentang kekerasan yang mereka alami. Dibandingkan dengan menggunakan pertanyaan tertutup, seperti, “Sekolah hari ini seru?”, berikan pertanyaan lanjutan yang memberikan anak kesempatan untuk mengelaborasi ceritanya, seperti, “Ada lagi yang ingin kamu ceritakan ke mama?”.
Selalu ingatkan anak bahwa tidak apa-apa untuk berbicara dengan Anda, terlepas dari apapun topik pembicaraannya. Dan ingat, peran Anda sebagai orangtua adalah untuk selalu tepati janji dan jangan berikan hukuman saat mereka bicara jujur dengan Anda.

➡️ *Bekali anak dengan* *nomor telepon darurat*

Ajari anak bagaimana cara untuk menelepon
Ajarkan anak untuk menghafal no. Hp kedua orangtuanya
Berikan informasi tentang nomor layanan darurat yang hanya digunakan dalam keadaan darurat bukan main-main.

➡️ *Biasakan agar anak selalu berpakaian tertutup
Meskipun di dalam rumah,*

biasakan anak Anda untuk selalu berpakaian tertutup agar tidak menimbulkan efek merangsang saat orang lain melihat tubuhnya. Kebanyakan kasus pencabulan yang dilakukan oleh orang-orang terdekat terjadi karena cara berpakaian anak yang terbuka.
Sedini mungkin, Biasakan anak memakai pakaian dalam dan pakaian luar
Terapkan peraturan bahwa pakaian dalam bukanlah pakaian yang digunakan sehari hari tanpa pakaian luar
Hindari berganti baju di depan anak-anak. Lebih baik katakana “permisi” dan meminta mereka keluar sebentar

➡️ *Berikan pemahaman seks yang benar*

Sebagai orang yang paling dekat dengan anak, orang tua khususnya ibu tentu harus mampu memberikan perhatian dan perlindungan kepada anak, utamanya kepada anak perempuan. Jalin komunikasi yang baik dengan anak agar mereka selalu terbuka dan tidak segan bercerita kepada Anda mengenai hal-hal yang menurutnya tidak wajar. Jika anak Anda tiba-tiba menjadi pendiam, sebagai orang tua Anda juga harus peka dan segera mencari tahu penyebabnya, karena perubahan sikap bisa menjadi tanda bahwa anak sedang mengalami suatu masalah.
[15/8 10.04] +62 813-8156-9855: Berdasarkan buku karangan Watik ideo yang berjudul “ *Aku Anak yg Berani, Bisa Melindungi Diri Sendiri”.*

 *Ada beberapa tips untuk Orangtua saat menghadapi pertanyaan anak :*

▶️ *Mengapa Berbeda??*
Sedapat mungkin, tenangkan diri anda ketika anak mulai bertanya tentang organ reproduksi. Ini adalah langkah awal untuk mengenalkan bagian organ genital kepada anak.
Jika anak anda mulai bertanya lebih jauh tentang organ kemaluannya, jelaskan dengan bahasa sederhana namun tetap ilmiah.
Jika Anak anda cukup kritis. Mungkin anda juga perlu menunjukkan gambar anatomi tubuh manusia kepadanya
Ingat, anak-anak tidak pernah memikirkan pornografi kecuali jika anda yang bersikap tidak wajar saat mengenalkannya
Ajak anak untuk mengaktifkan otak kiri ketika ia mulai bertanya tentang organ tubuh. Otak kiri adalah pusat logika .

▶️ *Pipis Di mana??*

Perkenalkan toilet training kepada anak sejak dua tahun
Biasakan untuk tidak mengajarkan anak (terutama anak laki-laki) buang air kecil di area umum karena kejahatan seksual bisa saja terjadi di sekitar
Biasakan anak untuk pipis terlebih dahulu sebelum berpergian. Namun, jika tidak memungkinkan tetaplah konsisten mencari toilet ketika sedang diluar rumah
Ajari anak untuk mengenali toilet pria dan wanita. Jika anak lelaki ditemani olah ayah untuk ke toilet pria. Dan anak perempuan ditemani ibunya ke toilet wanita
Jika sudah mampu, ajari mereka untuk cebok/ membersihkan organ genitalnya sendiri

▶️ *Dari mana asalnya adik bayi??*
Jangan marahi anak ketika mereka mulai bertanya tentang bagaimana proses kehamilan dan reproduksi
Jangan pernah memberi penjelasan yang tidak realistis. Misal adik bayi dibeli dari toko dll
 Jangan terlalu mendetail menjelaskan hubungan intim suami istri, karena percayalah anak-anak usia 3-7 tahun tidak akan bertanya sejauh itu
Awasi tontonan anak. Tayangan film kartun atau game terkadang juga memiliki konten yang tidak bagus untuk anak.

 ▶️ *Sakit ga sih khitan itu??*

Jika sudah cukup usianya, beri anak informasi tentang apa itu khitan, beserta manfaatnya
Jangan dipaksa jika anak masih takut untuk di khitan
Motivasi dari teman/ sebaya terkadang lebih ampuh untuk membuat anak melakukan khitan
Pilih saat yang tepat untuk mengkhitan anak. Misal saat liburan sekolah, sehingga masa pemulihannya tidak mengganggu waktu sekolah
Berikan kasih sayang dan motivasi saat anak melakukan pemulihan pasca khitan

▶️ *Apakah ada monster, jika tidur sendiri#*

Jangan memakai satu selimut berdua/beramai ramai dengan anak. Berikan anak perlengkapan tidurnya sendiri
Mulai ajari anak untuk tidur sendiri, jika dirasa sudah siap
Pakaikan pakaian tidur jika waktunya tidur
Ajari anak untuk mengetuk pintu saat akan masuk ke kamar tidur orangtua atau anggota keluarga lainnya

 *Video tentang pendidikan seksual kepada anak*

https://www.youtube.com/watch?v=oNZZ1ED9vuE&feature=youtu.be
https://www.youtube.com/watch?v=B6_zF490u2U&feature=youtu.be
https://www.youtube.com/watch?v=DOEXMxrq0YM&feature=youtu.be




 *Daftar Pustaka*
https://id.wikipedia.org/wiki/Pelecehan_seksual
https://id.wikipedia.org/wiki/Pelecehan_seksual_terhadap_anak
https://www.google.com/search?q=efek+kekerasan+seksual+pada+anak&safe=strict&client=firefox-b-d&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwjPwNihiILkAhUKElAKHff1CukQ_AUIESgB&biw=1352&bih=637#imgdii=7jySleW5b5z3jM:&imgrc=7JH18H97PXVabM:
https://doktersehat-com.cdn.ampproject.org/v/s/doktersehat.com/mencegah-pelecehan-seksual-anak/amp/?usqp=mq331AQEKAFwAQ%3D%3D&amp_js_v=0.1#referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&amp_tf=Dari%20%251%24s&ampshare=https%3A%2F%2Fdoktersehat.com%2Fmencegah-pelecehan-seksual-anak%2F
Watik ideo. (2014). Aku Anak yg Berani, Bisa Melindungi Diri Sendiri. Jakarta : Gramedia.
 yang berjudul “Aku Anak yg Berani, Bisa Melindungi Diri Sendiri”.
[15/8 15.50] +62 822-7769-4414: Diskusi kelompok 7


Sesi Tanya Jawab :
pertanyaan 1 : melia sari ( Genteng, Banyuwangi)

sejak kapan kita mulai memberitahu anak mengenai anatomi tubuhnya dengan nama2 yang seharusnya?

Pengenalan anggota tubuh harus dilakukan sedini mungkin, termasuk dengan penamaan yang tepat untuk genitalia mereka. Banyak orangtua yang memilih ‘menghaluskan’ istilah anatomi tubuh seperti “payudara”, “penis”, atau “vagina” dengan kata-kata yang menurut mereka lebih bisa diterima. Cara ini salah.
Dengan mengajarkan anak nama-nama yang tepat untuk setiap bagian tubuh, mereka akan lebih akurat saat menceritakan apa yang terjadi pada mereka jika seseorang melecehkan mereka. Dengan menggunakan istilah anatomi yang sesuai, semua orang yang terlibat akan memahami persis apa yang anak-anak maksud guna meminimalisir kemungkinan salah tafsir. Misalnya, akan jauh lebih jelas jika seorang anak bisa melaporkan pelecehan yang terjadi dengan, “orang itu menyentuh vaginaku dengan penisnya” dibanding dengan jika ia mengatakan “orang itu pegang burungku.”

Anak perempuan saya 10th masih suka digendong di pundak pamannya, masih boleh ga ya bun?
sebaiknya dihindari bun, dan diberi penjelasan pelan-pelan, karena usia 10 th untuk beberapa anak sudah mulai tumbuh organ kewanitaannya. Usia sekitar 9 atau 10 tahun, merupakan titik yang sangat rawan. Perempuan dapat mencapai aqil baligh pada usia ini dengan ditandai adanya menarche (menstruasi pertama). Sementara anak laki-laki pada umumnya akan mengalami ihtilam (mimpi basah) sekitar 2 atau 3 tahun sesudah usia itu. Sekalipun demikian, di masa sekarang semakin banyak anak yang mengalami ihtilam lebih awal dibanding anak-anak di masa sebelumnya. Usia 10 tahun pun boleh jadi sudah ada yang menjadi muhtalim (orang yang mengalami mimpi basah). ada kejadian, anak tetangga krn stiap hari seringnya brmain, tidur brsama dg kakek, akhirnya tjd pelecehan seksual.


#fitriahseksualitas
#kuliahbunsayIIP
#Day11

Level 11 Day 7

Fitrah Seksualitas
Presentasi kelompok 6 Bunsay Gabungan Jabar
Day 7


Fitrah Seksualitas dan Pentingnya Membangkitkannya

Menurut Ustadz Harry Santosa, penulis buku Fitrah Based Education, Fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang berpikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati. Menumbuhkan Fitrah ini banyak tergantung pada kehadiran dan kedekatan pada Ayah dan Ibu.
Riset banyak membuktikan bahwa anak anak yang tercerabut dari orang tuanya pada usia dini baik karena perang, bencana alam, perceraian, boarding school dll akan banyak mengalami gangguan kejiwaan, sejak perasaan terasing (anxiety), perasaan kehilangan kelekatan atau attachment, sampai kepada depresi. Kelak ketika dewasa memiliki masalah sosial dan seksualitas seperti homoseksual, membenci perempuan, curiga pada hubungan dekat dsbnya.

Pengertian Media dan Media Digital

Media pada dasarnya merupakan sarana untuk menyampaikan suatu pesan.
Jenis-jenis media:
  1. Media Visual : yaitu media yang hanya dapat dilihat, seperti : foto, gambar, poster, kartun, grafik dll.
  1. Media Audio : media yang hanya dapat didengar saja, seperti : kaset audio, mp3, radio.
  1. Media Audio Visual : media yang dapat didengar sekaligus dilihat, seperti : film bersuara, video, televisi, sound slide
  1. Multimedia : media yang dapat menyajikan unsur media secara lengkap, seperti : animasi. Multimedia sering diidentikan dengan komputer, internet dan pembelajaran berbasis komputer.
  1. Media Realita : yaitu media nyata yang ada di lingkungan alam, baik digunakan dalam keadaan hidup maupun sudah diawetkan, atau media yang merupakan tiruan aslinya seperti : binatang, spesimen, herbarium, dll.

Sedangkan yang disebut media digital adalah media yang dikodekan dalam format yang dapat dibaca oleh mesin (machine-readable).
Program-program komputer dan perangkat lunak seperti citra digital, digital video; video games; halaman web dan situs web, termasuk media sosial; data dan database; digital audio, seperti mp3, mp4 dan e-buku adalah contoh media digital.
Penggunaan media dapat memiliki pengaruh yang kuat pada pembentukan nilai, karakter dan kebiasaan anak.

Beda Zaman, Beda Cara Mengasuh

Setiap zaman selalu memiliki tantangan dan kegelisahan yang harus dijawab. Sebagaimana ditulis Cahyadi Takariawan, zaman kakek moyang kita, mungkin mereka sibuk menasehati anak agar tidak terus menerus duduk di dekat radio untuk mendengarkan siaran.
Di zaman orang tua kita, mereka sibuk menasehati anak-anak agar tidak kecanduan tayangan televisi.
Di zaman kita, semua sibuk mengkondisikan anak agar tidak kecanduan gadget. Lima tahun dari sekarang, persoalan sudah berganti lagi.
Di masa sekarang, anak adalah generasi digital, sedangkan orangtua adalah generasi imigran digital. Generasi Digital: Individu yang lahir setelah adopsi teknologi digital.  Generasi Imigran Digital: Individu yang lahir sebelum munculnya teknologi digital.
Salah satu tantangan pengasuhan era digital adalah mampu melindungi anak-anak dari ancaman era digital, tetapi tidak menghalangi  potensi manfaat yang bisa ditawarkannya


Paparan Media Digital Masa Kini

Kekuatan Media Digital 

1. Lebih Komprehensif

Perbedaan paling utama dan mendasar adalah kemampuan media digital dalam melaporkan peristiwa dengan lebih komprehensif pada pembaca/audiens. Sebuah berita di era digital tak hanya terdiri dari teks dan foto, tapi juga tautan ke semua peristiwa sebelumnya yang mengawali momen termutakhir dari berita bersangkutan. 
Dengan satu klik, pembaca bisa dibawa ke harta karun informasi digital yang bisa menjelaskan sejarah, kronologi dan konteks dari peristiwa yang tengah diberitakan. Peranan ini tentu saja tidak dimiliki oleh media cetak. Contoh konten yang digemari anak - anak hingga dewasa adalah youtube

2. Lebih Otentik

Berita digital juga berpotensi lebih otentik, karena bisa menampilkan realitas secara lebih utuh. Bisa ada video di halaman yang sama dengan teks dan foto, sesuatu yang jelas menambah kredibilitas dan akurasi dari informasi yang dimuat di sana. Misalnya, saat seorang anak mengetik atau mencari informasi tentang sesuatu tentang seks maka bisa didapat dengan jelas dan akurat tanpa ada potongan apapun

 3. Big Data

Media digital yang belum banyak digali adalah kemampuannya menampilkan big data atau data besar. Semua angka-angka hasil survei kesehatan, survei demografi, sensus, angka-angka hasil pemantauan bertahun-tahun, kini sudah banyak tersedia sebagai data digital terbuka (open data) dan dengan mudah dapat diakses di internet. Jurnalisme data akan menjadi tulang punggung utama jurnalisme di era digital, karena teknik ini memungkinkan publik mengakses data mentah dengan utuh, tanpa perantara dari pakar, pemerintah atau pengamat.

Untuk itu, jurnalis harus belajar dan berusaha keras mencari semua data-data yang relevan buat publik, membersihkannya dan menganalisanya, untuk kemudian ditampilkan dengan visualisasi yang mudah dipahami audiens. Hal itu sangat penting agar data tak berhenti sebatas angka, namun bisa jadi pengetahuan yang berguna.


4. Interaksi Langsung

Yang satu ini menjadi kemampuan media digital yang tidak ditemukan di media cetak manapun, yakni kemampuannya untuk terhubung langsung dengan pembaca. Relasi atau engagement antara media, jurnalis dan pembaca kini memasuki era baru. Pembaca kini adalah bagian dari redaksi, bagian dari newsroom di era digital. Mereka bisa memberikan tips, bocoran, saran, komentar, secara real time, pada redaksi. Aturan baku di media sosial adalah: selalu ada yang lebih tahu dari kita di luar sana.

Pola diseminasi informasi di era digital kini multi arah, tak lagi hanya searah dari ruang redaksi yang “maha tahu” ke lautan pembaca yang perlu “diberi tahu”. Media massa kini adalah bagian dari percakapan publik, dimana produksi informasi tak lagi dimonopoli jurnalis. 

Kelemahan Media Digital 

  1. Kebebasan Informasi
Kebebasan informasi yang tidak diberikan aturan membuat media digital memiliki sisi kelemahan yang fatal bagi pengguna yang tidak memiliki batasan atau aturan dalam penggunaannya. Terkadang informasi yang diterima adalah informasi - informasi tidak sesuai atau lebih dikenal dengan istilah “HOAX / Berita Palsu”
  1. Akses Untuk Konten Pornografi Mudah diakses
Permasalahan yang sering timbul dari lemahnya aturan akan penggunaan media digital adalah dengan mudahnya mengakses konten pornografi. Ini adalah satu kelemahan media digital yang masih belum mampu untuk menutup atau mempersulit akses menuju konten - konten negatif yang akan mempengaruhi penggunanya
  1. Kebebasan Berekspresi 
Kebebasan berekspresi dalam menggunakan media digital pun menjadi salah satu nilai kelemahan media digital masa kini, kenapa? Karena hal ini menyebabkan munculnya gambar - gambar bebas berekspresi dari pengguna yang sudah kadung mengalami penyimpangan. Misal; munculnya gambar - gambar tidak pantas, munculnya LGBT, munculnya kegiatan - kegiatan yang membawa pengaruh buruk bagi pengguna media digital yang tak memiliki kekuatan dalam diri tentang penggunaan media tersebut,

Sifat Pornografi 

Saat ini yang membuat pornografi menjadi semakin berbahaya dengan kehadiran internet adalah karena internet mengandung unsur 4A.dengan kecanggihan internet mengandung unsur 4 A, yaitu :
  1. Accessible; Mudah diakses dimanapun kapanpun
  2. Affordable; Terjangkau. Bahkan tanpa biaya.
  3. Anonim; Rahasia. Tanpa diketahui org lain.
  4. Aggressive; Bersifat menyerang, mengejar konsumennya. Karena saat ini pornografi disebarkan tidak lagi melalui situs namun bahkan ke medsos pribadi, yang terkadang memunculkan gambar-gambar “berbahaya” di home kita, yang kita sendiri sebetulnya tidak menghendaki. Pornografi ini pada anak akibatnya bisa lebih parah daripada orang dewasa, karena anak-anak sebetulnya belum cukup berkembang PFCnya. Sehingga, mereka cenderung menyerap dan meniru begitu saja apapun yang dilihat.

Dampak Pornografi

1. Kecanduan

Berbagai konten pornografi yang muncul melalui iklan, media sosial, games, film, video klip, ataupun tontonan di atas awalnya akan membangkitkan rasa penasaran terlebih dahulu pada anak, bahkan saat tidak sengaja melihat sekalipun. Rasa penasaran inilah yang menjadi dorongan anak-anak untuk melihat lebih banyak konten pornografi lainnya.
Selain itu, kecanduan ini dipicu oleh pengeluaran hormon dopamin pada otak sehingga akan menimbulkan perasaan bahagia ketika menonton konten pornografi. Bila tidak segera dicegah, bukan tidak mungkin kecanduan terhadap konten pornografi dapat terjadi pada anak.

2. Merusak otak

Pornografi dapat merusak otak anak, tepatnya pada salah satu bagian otak depan yang disebut Pre Frontal Cortex (PFC). Hal ini disebabkan karena bagian PFC yang ada di otak anak belum matang dengan sempurna. Jika bagian otak ini rusak, maka dapat mengakibatkan konsentrasi menurun, sulit memahami benar dan salah, sulit berpikir kritis, sulit menahan diri, sulit menunda kepuasan, dan sulit merencanakan masa depan.

3. Keinginan mencoba dan meniru

Dampak lain yang dirasakan anak setelah melihat pornografi adalah keinginan untuk mencoba dan meniru. Ini berkaitan dengan terpengaruhnya mirror neuron. Mirror neuron adalah sel-sel otak yang mampu membuat anak seperti merasakan atau mengalami apa yang ditontonnya, termasuk pornografi. Hal ini dapat mendorong anak untuk mencoba dan meniru apa yang dilihatnya.

4. Mulai melakukan tindakan seksual

Jika tidak diawasi, anak-anak yang terpapar pornografi ini bisa saja mencoba melakukan tindakan seksual untuk mengatasi rasa penasarannya.

Mengapa anak senang media digital? 

Anak dan remaja rentan merasa BLAST, media digital bisa ‘mengobati’. Bored, Lonely, Angry, Stressed, Tired. Anak bosan dengan kegiatan sehari-harinya. Anak merasa kesepian, tidak ada teman bicara. Anak tertekan dengan berbagai target prestasi dari orang tua. Anak marah dengan berbagai peraturan yang dirasa terlalu mengekang. Anak lelah dengan kesehariannya. 

Mereka menemukan “teman” yang mampu memahami mereka. Mereka menemukan “obat” yang bisa menghilangkan BLAST walaupun secara semu. 

Ketika kita berada dalam kondisi BLAST akan menuntut otak untuk melakukan sesuatu yang menstimulasi keluarnya dopamin pada otak. Jika berada di dalam kondisi ini kita melihat media digital yang bisa menyediakan apa saja, bahkan pornografi, maka otak kita akan mengeluarkan dopamin. Sehingga timbullah rasa ketagihan, dan keinginan untuk mengulanginya kembali.

Dan media digital dengan keunggulannya tadi yaitu mampu memberikan informasi dengan cepat, mampu menghadirkan data - data otentik dengan tepat, mampu memberikan ruang informasi yang banyak dan mampu membuat kita merasa berinteraksi langsung dengan media yang sedang kita gunakan.

Contoh umum yang terjadi pada anak misalnya, anak saat ini senang dengan konten “youtube”  yang mampu memberikan akses video - video yang mereka mau dengan cepat dan akurat bahkan hingga bervariasi tayangannya. Inilah yang menjadikan anak begitu senang jika sudah bergelut dengan media digital, contoh kecilnya juga di televisi. Kehebatan media digital dalam menghadirkan gambar atau informasi inilah yang membuat anak senang dengan media digital bahkan hal ini pun berlaku pada orang dewasa.


Menjaga Fitrah Seksualitas Di Era Digital

Pemahaman Agama Anak

Ada perbedaan yang jauh antara mengajarkan agama dengan menumbuhkan ghirah fitrah keimanan. Beragama belum tentu beraqidah. Anak yang banyak diajarkan agama belum tentu memiliki ghirah keimanan dan belum tentu mengamalkannya, tetapi anak yang ghirah fitrah keimanannya tumbuh paripurna akan selalu mendalami agama dan mengamalkannya sepanjang hidupnya, senantiasa memuliakan Allah dan RasulNya juga Islam dan Ulamanya. Tidak ada pendidikan agama yang lebih baik selain teladan dari orang tuanya.

Berikan kesan positif tentang agama. Kenalkan Allah sejak dini dari ciptaanNya.saat anak mengenal Allah dengan baik maka mereka akan tkut kepada Allah. Sehingga akan merasa diawasi allah setiap saat. Ghirah keimanan ini akan menhadi benteng saat mereka menggunakan technology.Ayah dan bunda harus menjadi sholeh dan sholeha maka anak anak pun insya Allah akan sholeh sholeha. 


Peran Ayah dan Ibu dalam Menjaga Fitrah Seksualitas

Mendidik fitrah seksualitas adalah terbangunnya attachment (kelekatan) serta suplai ke ayahan dan suplai keibuan. Seperti yang sudah dibahas oleh beberapa kelompok lainnya. Pada usia 0-2 tahun ialah masa merawat kelekatan (attachment) awal. Di usia 3-6 tahun saat menguatkan konsep diri berupa identitas gender. Saat usia 7-10 tahun waktunya untuk menumbuhkan dan menyadarkan potensi gendernya. Usia 11-14 Tahun adalah waktu yang tepat untuk mengokohkan fitrah seksualitas. 

Orang Tua yang Kreatif dan Smart Teknologi 


Salah satu upaya orang tua dalam memberikan pendidikan bagi anak dalam keluarga di era digital seperti sekarang adalah dengan memberikan pendampingan dalam penggunaan teknologi bagi anak. Melalui pendampingan tersebut, orang tua dapat mengawasi anak dan mengarahkan konten-konten positif bagi anak untuk menggunakan kemajuan teknologi secara tepat sesuai dengan masa tumbuh kembang anak. Orangtua sebagai pendidik anak harus mengupayakan melalui interaksi sehari-hari tentang bagaimana menggunakan teknologi digital dan berbagai media online dengan baik, aman dan benar (Przybylski, dkk,dalam Hendriani, 2017). 

Mengasuh anak di era digital, menuntut para orangtua lebih kreatif dalam rangka mengurangi frekuensi penggunaan gadget yang tidak perlu. Bentuk kreativitas orangtua dalam hal ini antara lain: (1) Menyediakan alternatif bermain, ,in door,  out door, bersepeda, lari, main bola, (2) Menyalurkan minat anak, seperti : olah raga, bela diri, science, menari, balet, badminton, sepak bola dan sebagainya, (3) Menyediakan alat-alat yang mendukung anak untuk berkreasi, (4) Menyediakan variasi kegiatan seperti memasak, berkebun, membuat pra karya, mewarnai dan menggambar, (5) Mengajak anak mengenal lingkungan, (6) Bertamu ke tetangga, teman, dan saudara.

Penanganan anak jika sudah terpapar dan rusak fitrah seksualitasnya.

  •  Lihat dulu seberapa parah tingkat addiction-nya/kasusnya.
  • Jika tidak terlalu parah, orang tua harus membekali anaknya tentang literasi digital. Anak diperkenalkan cara melindungi diri, mengetahui bahaya dan kejahatan online, bagaimana menjaga pandangan sesuai anjuran Islam, dll. Selain itu juga perkuat bonding dengan anak dengan cara bermain bersama, menonton tayangan edukasi bersama, mendongeng/bercerita bersama, perbanyak aktivitas di luar rumah bersama anak, dsb.
  • Jika sudah parah terpaparnya, maka lebih baik orang tua berkonsultasi ke Psikolog. Psikolog lebih memahami perkara seperti ini. Kita butuh psikolog karena psikolog adalah pihak ketiga, sehingga netral (tidak subyektif) dan kemungkinan besar nasehatnya akan lebih mudah dituruti oleh anak daripada nasihat orang tuanya sendiri. 

Panduan penggunaan media digital 

Kenalkan Fungsi Media Digital

Media digital seperti smartphone, tablet, dan televisi memiliki fungsinya masing-masing. Kenalkan anak dengan fungsi utamanya. 
Utamanya, media digunakan sebagai alat komunikasi seperti menelepon, sms, chatting, video chatting kepada keluarga dan keluarga. Selanjutnya media digital tsb juga berfungsi sebagai alat produksi atau alat untuk bekerja seperti belajar, membuat dokumen, membuat gambar, membuat video, berjualan online dsb. Fungsi terakhirnya ialah sebagai alat hiburan seperti menonton video.
Sebaiknya, media digital digunakan sebagai alat hiburan secukupnya saja. 

Berikan Batasan Penggunaan sesuai Usia Anak

  1. Anak usia di bawah 18 bulan sebaiknya tidak ada paparan media digital sama sekali kecuali keperluan video chatting. 
  2. Anak usia 2-5 tahun paling banyak terpapar media digital 1 jam sehari dengan pendampingan penuh dari orang tua.
  3. Anak usia 6 tahun ke atas sebaiknya tidak lebih dari 2 jam menggunakan media digital. 
Di usia 6 -17 tahun, sebaiknya anak tidak belum diizinkan memiliki akun media sosial. Jika terpaksa memiliki akun media sosial untuk kebutuhan komunikasi keluarga dan sekolah, anak sebaiknya sudah memahami literasi digital. Yaitu seperangkat skills yang diperlukan untuk menghadapi berbagai tantangan di era digital yang muncul karena meluasnya teknologi dan media di seluruh aspek kehidupan. Literasi digital mencakup tiga hal berikut ini: literasi teknologi informasi & komunikasi, literasi media, dan literasi informasi. 

Literasi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)

Literasi teknologi tidak hanya mencakup kemampuan mengoperasikan teknologi dengan lancar, tetapi juga berkaitan dengan sikap dan kebiasaan baik ketika menggunakan teknologi.
Pada dasarnya, literasi teknologi mencakup dua hal berikut:

1. Mampu menggunakan perangkat digital untuk mengakses, mengolah, mengintegrasi, menciptakan dan mengkomunikasikan informasi

Kemampuan dasar yang perlu dimiliki di antaranya:
·         menggunakan perangkat digital dan perlengkapannya (komputer, smartphone, printer, speaker, dll),
·         mengoperasikan beberapa software dasar seperti word processor, spreadsheet, software presentasi dan pengolah gambar sederhana,
·         menggunakan browser dan mesin pencari,
·         berkomunikasi secara online menggunakan email, video call, chat, dan media sosial.

2. Mampu menggunakan teknologi dengan aman, beretika dan bertanggung jawab

Sikap dan kebiasaan yang perlu dibangun pada anak antara lain:
·         mampu melindungi privasi dan keamanan diri saat berinternet,
·         menjaga etika ketika berkomunikasi online,
·         menghargai karya orang lain,
·         menjaga keseimbangan aktivitas dengan dan tanpa perangkat digital.
Jadi, meskipun anak telah mahir mengoperasikan laptop atau smartphone, jangan lupa untuk memastikan bahwa ia juga telah mampu bertanggung jawab atas perilakunya dalam menggunakan teknologi.

Literasi Informasi

1. Mengidentifikasi informasi yang dibutuhkan

Misalnya, anak memahami ketika ingin membuat kue ia membutuhkan resep, dan ketika mendapat hadiah hewan peliharaan ia butuh mencari tahu bagaimana cara merawatnya.

2. Mencari informasi secara efektif

Anak memahami ada berbagai saluran untuk mencari informasi (Google Images untuk mencari gambar, Google News untuk mencari berita, dll) dan mampu menggunakan kata kunci secara efektif.

3. Mengevaluasi informasi

Anak yang lebih tua diharapkan dapat membedakan website yang dapat dipercaya dan tidak, situs resmi dan personal, fakta dan opini, serta berita asli dan hoax.

4. Menggunakan informasi untuk menyelesaikan permasalahan

Misalnya, anak mampu mengerjakan tugas sekolah dengan merangkum informasi yang ditemukannya di internet, atau mencetak resep kue untuk dimasak di dapur.

5. Menghargai sumber informasi

Anak selalu mencantumkan sumber yang digunakannya baik berupa teks maupun gambar.

Literasi Media

Literasi media adalah kemampuan mengevaluasi media dan pesan yang dikandungnya dengan lima konsep berikut:
  1. Author – Siapa yang membuat pesan ini?
  2. Format – Teknik apa yang digunakan agar saya tertarik melihatnya?
  3. Audience – Siapa saja yang menjadi sasaran dan bagaimana mereka menangkap isi pesan ini?
  4. Message – Pesan apa yang sedang disampaikan?
  5. Purpose – Apa tujuan pesan ini?

Aturan penggunaan media digital di rumah

  1. Membatasi penggunaan media digital sesuai dengan usia anak.

  2. Membuat aturan penggunaan internet/media digital di rumah sesuai kesepakatan bersama.

    1. Waktu/durasi 

Misalnya: maksimal 2 jam sehari, atau anak-anak hanya boleh membuka media digital (internet, medsos, YouTube, dsb) hanya pada pukul 19.00 – 20.00 WIB malam saja. Setelah itu seluruh gadget harus dimatikan dan tidak ada lagi penggunaan gadget untuk anak.
  1. Kategori media yang boleh dan tidak boleh 

Anak hanya boleh bermain games multimedia dan menonton konten/siaran/channel yang telah dipilihkan oleh orang tuanya. Misalnya: hanya boleh menonton film-film yang bernuansa Islami, memiliki nilai moral, atau menambah wawasan pengetahuan pada jam multimedia yang telah disepakati. Untuk anak-anak usia di atas 10 tahun, membuat kesepakatan bersama anak tentang kategori media digital apa yang boleh dan tidak boleh.
  1. Zona bebas gadget 
Sesuaikan dengan value keluarga atau kesepakatan bersama.
  1. Semua device yang digunakan anak-anak memiliki jam kerja tersendiri dan akan mati secara otomatis pada jam yang ditentukan. 

Misal: HP/smartphone memiliki waktu penggunaan maksimal 1 jam. Televisi boleh ditonton maksimal 1 jam, dsb.

Kontrol orang tua

1.      Orang tua memberi password pada semua gadget di rumah (termasuk password untuk akses internet), sehingga anak tidak bisa membukanya sembarangan sebelum diijinkan/sebelum waktunya/tanpa sepengetahuan orang tua.
2.      Mem-filter semua situs yang berbahaya bagi anak-anak.
3.      Mengikuti/follow anak di media sosial (jika anak sudah agak dewasa dan memiliki media sosial).
4.      Memanfaatkan fitur “save search” di Google.
5.      Menggunakan aplikasi parental control. Keunggulannya adalah konten yang dicari/di-search anak bisa disaring. Untuk aplikasi parental control (terutama yang berbayar) dapat mengirimkan data mengenai informasi apa saja yang dicari anak ke email orangtua.
6.      Menyambungkan saluran Youtube ke TV di rumah, sehingga orang tua bisa turut melihat atau minimal mendengar apa yang sedang ditonton anak.
7.      Orang tua turut mendampingi anak ketika anak sedang bermain gadget. Usahakan orangtua mengerjakan sesuatu atau aktivitas lain di samping anak, sehingga orang tua bisa ikut mengontrol.
8.    Bila menemukan konten negatif, orangtua dapat melaporkan (report) ke Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, Facebook, dan Youtube.  Youtube akan memberi perhatian khusus pada institusi-institusi yang melaporkan konten negatif seperti ICT Watch, laporan bisa disampaikan dengan memberi tahu link atau judul konten negatif via email ke flag@ictwatch.id


Referensi

Ayuningtyas, Chitra H. 2017. Literasi Digital, Siapkan Anak Menyongsong Era Digital Abad ke-21, https://digitalmama.id/literasi-digital-abad-21/
Barkiah, Kiki. 2015. 5 Guru Kecilku: Bagian II. Bandung. Mastakka Publishing.
Sabrina, Gabrella. 2018. Literasi Media Digital & Pengasuhan Anak. http://www.koalisiperempuan.or.id/2018/04/16/literasi-media-digital-pengasuhan-anak/
Santosa, Harry. 2017. Fitrah Based Education
Nasikhul Abid, Muhammad. Yayasan Mutiara Timur.



Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga
Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2016. Mendidik Anak di Era Digital. Diakses melalui https://www.fres.co.id/mendidik-anak-di-era-digital/



#kuliahbunsayIIP
#fitrahseksualitas
#level11